Article

Bond Mendahului Saham

Walau pemerintah telah merespon kejatuhan harga minyak dengan kembali menurunkan harga bahan bakar minyak, kinerja IHSG sepekan lalu belum menggembirakan. Arus keluar modal asing menekan IHSG turun 1,3% dalam sepekan dengan penutupan 5148. Seperti terlihat pada peraga dibawah ini, sepanjang tahun berjalan (YTD) secara umum negara berkembang – kecuali Filipina – mengalami capital outflow. Untuk Indonesia, posisi outflows mencapai $147 juta yang turut memicu IHSG turun 1,5% sepanjang tahun.

Sentimen negatif terhadap negara berkembang ditunjukkan oleh peningkatan angka credit default swap (CDS) sejak akhir tahun lalu. Investor asing nampaknya masih mengkuatirkan dampak perlambatan ekonomi Eropa yang dicirikan oleh angka inflasi minus (deflasi) selain dampak perlambatan ekonomi China. Terlihat CDS untuk Indonesia yang berwarna biru bergerak naik hingga mencapai 167.5. Angka ini berarti penerbit CDS meminta imbal hasil per tahun sebesar 1,67% selama lima tahun untuk menjamin sekira Indonesia mengalami default. Terlihat CDS Indonesia lebih rendah ketimbang Turki namun lebih tinggi dibanding Thailand dan Filipina.



Pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu menunjukkan gejala rotasi menuju sektor terkait otomotif dan konsumen. Kedua sektor ini mendapat manfaat dari penurunan harga BBM. Jumat pekan lalu harga premium turun menjadi Rp6.600 dan solar Rp6.400 per liter sementara Elpiji 12kg menjadi Rp129.000 dari sebelumnya Rp 134.700 per tabung. Terlihat saham Bluebird melonjak 21% sementara ASII naik hampir 4%. Sedangkan UNVR hanya mencetak kenaikan terbatas kurang dari satu persen. Sebaliknya saham sektor semen terpukul setelah pemerintah memerintahkan produsen semen BUMN untuk memangkas harga semen sebesar Rp3.000 per sak.

Faktor eksternal yang patut kami sampaikan adalah keputusan bank sentral Swiss (SNB) yang mengurangi kepemilikan asset euro merespon langkah ECB melakukan QE yang berisiko memperlemah euro. Selama tahun 2014 euro melemah sekitar 15%. Bloomberg melaporkan SNB memiliki asset euro sekitar $150 milyar dari sebesar $477 milyar cadangan devisa. Keputusan SNB itu memacu penguatan Swiss franc (CHF) sekitar 16% selama tahun berjalan.
Mengingat CHF merupakan komponen index dollar -- walau tidak sebesar euro, yen dan pound – melandasi pertimbangan DXY tidak menguat sepesat tahun lalu. Mungkin itu sebabnya, sepanjang tahun ini kita mencermati peningkatan harga emas sebagai asset alternatif DXY.
Dampak lanjutan bisa jadi membantu penguatan rupiah atau paling tidak membatasi pelemahannya. Selanjutnya dengan pertimbangan terbatasnya currency risk, maka dengan yield obligasi negara lain yang cenderung rendah dapat membuka peluang kenaikan harga SUN. Seperti kami ulas pekan lalu, pemulihan SUN bakal mendahului potensi kenaikan IHSG. Optimisme ini terbuka mengingat sepanjang tahun ini kepemilikan asing atas SUN meningkat sekitar Rp 8,5 trilyun hingga menjadi $470 trilyun. Selama pekan lalu, indeks obligasi negara Indonesia Asian Bond Fund (ABTRINDO) naik 0,85% hingga menyebabkan sepanjang tahun kinerjanya mencapai 2,2%.

Salam
Budi Hikmat
Chief Economist and Director for Investor Relation

Login