News

Bahana Economic Forum: Antisipasi Trend Pelemahan Ekonomi China

Jakarta, (Selasa,14 Juni 2016) – PT Bahana Sekuritas menggelar seminar bertema “The End Game for China” yang membahas mengenai arah perekonomian dan kebijakan China ditengah pelemahan ekonomi Negara Tirai Bambu itu. Dalam acara ini, Bahana Sekuritas menghadirkan dua pembicara Kevin Lai Ekonom Daiwa Capital Markets Hongkong dan Yoga Affandi, Kepala Grup Ekonomi Direktorat Kebijakan Ekonomi Bank Indonesia.

Setelah China mengalami pertumbuhan dobel digit, perlahan perekonomian China menuju titik keseimbangan baru. Pertumbuhan ekonominya terus melambat menjadi hanya satu digit saja. Kevin Lai memaparkan pandangannya tentang arah perlambatan pertumbuhan ekonomi China apakah akan mengalami penurunan secara drastis (hard landing) atau secara perlahan-lahan (soft landing).

China merupakan salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Pelemahan ekonomi China akan berdampak bagi negara lain. Setiap penurunan pertumbuhan ekonomi China sebesar 0,5 persen, akan berdampak terhadap penurunan perekonomian Indonesia sebesar 0,1 persen.  

Sementara itu, Yoga Affandi memaparkan tentang dampak kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah China terhadap perekonomian dan kebijakan di  Indonesia.

“Bagaimana arah perekomian juga kebijakan China sangat penting untuk dicermati. Termasuk pergerakan harga komoditas, mengingat China menyerap banyak sekali komoditas dari Indonesia seperti batu bara dan minyak sawit mentah,” kata  Harry Su Senior Associate Director, Head of Corporate Strategy and Research Bahana Sekuritas.

China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Banyak pasokan bahan baku yang diekspor Indonesia ke China.  Belakangan, penggunaan batu bara China menurun seiring dengan kebijakan hijau yang ramah lingkungan (green policy).  Di sisi lain, China memiliki cadangan batu bara dalam jumlah besar. Bagaimana China mengambil kebijakan tentang komoditas seperti batu bara menarik dicermati.

Tidak hanya batu bara, semen juga mengalami kelebihan pasokan sehingga harganya jatuh. “Ada kesempatan untuk mendapatkan barang mentah berharga murah dari China, tetapi perlu dicermati juga untuk mengatur kran impor untuk melindungi industri di dalam negeri,” tambah Fakhrul Fulvian, Ekonom Bahana Sekuritas.

Tidak hanya terkait komoditas, kebijakan China mengenai nilai tukar renminbi juga memengaruhi mata uang di banyak negara termasuk nilai tukar rupiah. Kebijakan devaluasi renminbi pada Agustus tahun lalu turut menjadi salah satu faktor yang menekan kurs rupiah. Kebijakan tentang renminbi ini juga menarik dicermati.

Login