News

2017, Saat yang Tepat Menerbitkan Surat Hutang kala Suku Bunga Rendah

Jakarta – Meski Bank Sentral dalam beberapa bulan terakhir menahan suku bunga di level saat ini, suku bunga Indonesia sebenarnya sudah berada di titik terendah. Coba lihat saja data BI rate yang menjadi acuan suku bunga di Indonesia sebelum Bank Indonesia menggunakan kebijakan suku bunga BI 7-day repo rate. Suku bunga yang paling rendah pernah berada dilevel 5.75% pada Februari 2012, namun sejak April 2016, melalui BI 7-day repo rate, suku bunga sudah turun menjadi 4,75% sejak Oktober hingga saat ini. 

Suku bunga acuan ini tentunya menjadi dasar bagi penetapan suku bunga lainnya di Indonesia termasuk dalam menentukan bunga kredit maupun yield surat hutang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh korporasi. Kalau suku bunga acuan rendah, maka bunga kredit dari perbankan dan yield obligasi juga bakal ikut turun, meski terkadang penurunan itu tidak langsung terjadi dan dengan besaran yang berbeda. 

Menurut Ekonom Bahana Sekuritas Fakhrul Fulvian, trend suku bunga rendah ini masih akan berlanjut sepanjang 2017, pasalnya pertumbuhan kredit perbankan masih dibawah 10% hingga akhir tahun lalu. Rendahnya serapan kredit pastinya berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Diharapkan dengan suku bunga rendah ini, mampu mendorong konsumsi masyarakat yang menjadi motor penggerak roda perekonomian Indonesia. Meski pergerakan suku bunga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestic, tapi ada faktor global yang turut mempengaruhinya. 

``Sepanjang tahun ini kita masih akan melihat risiko dari pergerakan suku bunga the fed, yang nantinya akan berpengaruh pada tingkat volatilitas dolar, namun hal ini sudah diperkirakan oleh pasar dan investor,’’ kata Fakhrul. ``Emiten harusnya jeli melihat kesempatan ini, sebab 2017, adalah tahun terakhir suku bunga rendah dan tahun depan, trend suku bunga sudah akan naik,’’ ungkap Fakhrul 

Sejak tahun lalu meski kondisi perekonomian belum pulih sepenuhnya, beberapa emiten memberanikan diri untuk mencari pendanaan dengan menerbitkan surat utang atau menerbitkan saham perdana di pasar modal karena pendanaan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kredit perbankan. Tahun lalu Bahana Sekuritas menjadi salah satu underwriter yang berhasil mengantarkan beberapa emiten untuk menerbitkan surat hutang, diantaranya ada 26 transaksi penawaran umum berkelanjutan, masing-masing 2 transaksi penerbitan surat utang jangka menengah dan sukuk serta ada 3 transaksi penerbitan surat utang global. 

Atas transaksi terbesar yang berhasil dibantu oleh Bahana yakni untuk penerbitan senior bonds Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp 4,65 triliun, Bahana mendapatkan penghargaan sebagai Best Local Currency Bond dari The Asset Triple A Country Awards 2016. Ini menjadi bukti nyata, dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, Bahana mampu melihat peluang yang pas bagi BRI untuk bisa menerbitkan surat utang dengan yield yang pantas. 

Tahun ini, Bahana melihat beberapa emiten mau tak mau harus mencari pendanaan di pasar karena adanya kebutuhan untuk menambah modal untuk mendukung ekspansi usaha atau untuk membayar surat utang yang sudah akan jatuh tempo pada tahun ini. Bahana memperkirakan jumlah emiten yang akan menerbitkan surat utang pada tahun ini, akan lebih ramai dibandingkan tahun lalu. 

Bila tahun lalu, rata-rata selisih suku bunga surat utang korporasi dengan rating idAAA tenor 1 tahun

Login