News

Saham Sektor Perunggasan Menanti Perbaikan pada 2018

Jakarta-- Pemulihan ekonomi masih belum dirasakan industri perunggasan Indonesia hingga semester satu tahun ini, meski ada faktor musiman puasa dan Lebaran, ternyata permintaan terhadap ayam dan turunannya tidak sebesar perkiraan semula, alhasil kinerja keuangan perusahaan-perusahaan Perunggasan belum menggembirakan.

Padahal pemerintah sudah semakin pro aktif membantu industri ini dengan program pemusnahan untuk mengurangi keterpurukan harga, namun karena permintaan rendah, harga ayam masih stabil murah. Menurut Analis PT Bahana Sekuritas Michael Setjoadi, rendahnya daya beli masyarakat pada tahun ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya konsumsi ayam. Dengan adanya formulasi baru terhadap kenaikan upah minimum yakni besar pertumbuhan ekonomi plus besar inflasi, serta adanya kenaikan tarif dasar listrik membuat daya beli masyarakat tidak sekuat tahun sebelumnya.

Tak heran bila kinerja keuangan perusahaan seperti PT Charoen Poghpand Indonesia dengan kode saham CPIN, PT Japfa Comfeed Indonesia dengan kode saham JPFA dan PT Malindo Feedmill dengan kode saham MAIN pada kuartal kedua tahun ini belum sesuai harapan. Melihat pencapaian hingga semester satu tahun ini, Bahana merevisi kebawah prediksi kinerja keuangan ketiga perusahaan ini untuk sepanjang 2017.

Namun terpuruknya harga Ayam tidak akan berlanjut hingga tahun depan, pasalnya pemerintah semakin memahami waktu yang tepat untuk melakukan pemusnahan sehingga kestabilan harga lebih terjamin dan daya beli masyarakat akan berangsur pulih pada tahun depan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, serta komoditas telur dan ayam merupakan bahan pokok yang harganya diatur oleh pemerintah sehingga fluktuasi harga lebih terjaga.

 

Charoen Pokphand Indonesia

Bahana memperkirakan pendapatan perusahaan berkode saham CPIN ini akan tergerus menjadi sebesar Rp 39,93 triliun pada akhir 2017, dari perkiraan semula sekitar Rp 41,45 triliun. Sedangkan pada tahun depan diperkirakan Charoen bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 42,93 triliun, turun 2,3% dari perkiraan semula.

Turunnya pendapatan mempengaruhi perkiraan laba bersih sepanjang tahun ini, yang diperkirakan turun hingga 23,9% dari perkiraan semula menjadi Rp 2,42 triliun pada akhir 2017. Namun pada tahun depan, meski pendapatan diperkirakan turun, tapi laba bersih diperkirakan tumbuh 10,6% dari perkiraan semula menjadi Rp 3 triliun.

Dengan perkiraan kinerja ini, Bahana merekomendasikan reduce untuk saham CPIN karena valuasi harga sudah kemahalan, dengan target harga turun dari Rp 2.900 menjadi Rp 2.750 per lembar saham

Japfa Comfeed Indonesia

Rekomendasi Bahana atas perusahaan berkode JAPFA ini lebih positif karena fundamentalnya lebih baik, memiliki bisnis yang lebih beragam dan valuasi harga masih murah, sehingga perusahaan sekuritas pelat merah ini merekomendasikan beli dengan target harga sedikit mengalami kenaikan dari semula Rp 1.700 menjadi Rp 1,750 per lembar saham.

Sama halnya dengan CPIN, pendapatan Japfa pada akhir tahun ini diperkirakan turun sebesar 3,7% dari perkiraan semula menjadi Rp 27,6 triliun, sehingga laba bersih diperkirakan turun sebesar 19% dari perkiraan semula menjadi Rp 1,31 triliun pada akhir 2017. Namun tahun depan, meski pendapatan diperkirakan turun sebesar 2,6% dari perkiraan semula menjadi Rp 28,81 triliun, namun laba bersih diperkirakan melonjak hingga 35% dari perkiraan semula menjadi Rp 1,61 triliun.

Malindo Feedmill

Anak usaha Badan Pembinaan Usaha Indonesia atau lebih dikenal dengan BPUI juga merekomendasikan Reduce atas saham MAIN karena valuasi harga sudah kemahalan serta ketersediaan fasilitas untuk menunjang usahanya belum tersedia, seperti misalnya freezer untuk mempertahankan Ayam tetap dalam kondisi segar sejak pemotongan hingga ke konsumen, Malindo masa menggunakan jasa pihak ketiga serta ada beberapa fasilitas lainnya yang belum tersedia.

Tahun ini, pendapatan Malindo diperkirakan turun hingga 8,3% dari perkiraan semula menjadi Rp 5,37 triliun, akibatnya laba bersih anjlok hingga 36,3% dari perkiraan semula menjadi Rp 190 miliar pada akhir 2017. Sementara itu, pendapatan tahun depan diperkirakan turun 7% dari perkiraan semula menjadi Rp 5,77 triliun, dengan kenaikan laba bersih sekitar 5,1% dari perkiraan semula menjadi Rp 240 miliar.

Sehingga Bahana menurunkan target harga MAIN menjadi Rp 860 dari perkiraan semula Rp 1.100 per lembar saham.

Login