News

Daya Beli Perlahan Membaik, Saham Sektor Konsumer Patut Dilihat Kembali

Jakarta -- Hingga akhir semester pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum menunjukkan geliat yang optimal. Lemahnya daya beli masyarakat yang membuat konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama perekonomian tidak mampu menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi.

Ada beberapa faktor yang membuat konsumsi masyarakat cukup rendah meskipun ada faktor musiman Lebaran pada semester lalu, diantaranya reformasi subsidi khususnya di sektor energi serta kericuhan politik menjelang dan setelah Pilkada DKI. Pada awal tahun ini pemerintah telah memangkas subsidi listrik dengan menaikkan tarif untuk sebagian kelas masyarakat, sehingga saat ini masyarakat bawah mengeluarkan sekitar dua kali lipat untuk biaya listrik dibanding sebelumnya.

Dalam hal mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah tengah berupaya mengurangi ketergantungan masyarakat menggunakan RON88 atau BBM subsidi, menjadi pengguna pertalite (non-subsidi), dimana harganya saat ini sekitar 10% - 15% lebih tinggi dari harga BBM subsidi. Sehingga secara tidak langsung, hal ini juga turut mempengaruhi daya beli masyarakat kelas bawah.

Menurut Plt Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas Henry Wibowo, kebijakan pemerintah mengurangi subsidi memang dalam jangka pendek mengurangi daya beli masyarakat, namun untuk kepentingan jangka panjang, pengurangan subsidi ini akan memberi dampak positif bagi kesehatan fiskal Indonesia, karena dana tersebut dapat dialokasikan lebih baik untuk biaya pengembangan infrastruktur
negara.

''Disisa tahun ini, hingga tahun depan, kami optimis daya beli masyarakat secara perlahan akan pulih kembali, '' ungkap Henry. Data peningkatan penjualan sepeda motor nasional pada Juni hingga Juli 2017, yang tumbuh 11% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi salah satu bukti meyakinkan bawah daya beli masyarakat sudah mulai membaik, tambah Henry.

Pasalnya, dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 103 triliun untuk subsidi energi atau naik sekitar 14% dibanding alokasi subsidi energi pada tahun ini sekitar Rp 90 triliun, artinya pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi maupun listrik untuk tahun depan.

Hal lainnya yang bakal membantu kenaikan daya beli masyarakat adalah semakin stabilnya pemulihan harga batu bara di pasar internasional. Pasar menilai kenaikan harga batu bara yang tengah terjadi saat ini sudah semakin stabil, sehingga perusahaan-perusahaan yang terkait dengan batu bara sudah akan mulai ekspansi target produksi dalam waktu dekat.

Bahana memperkirakan acuan harga batu bara Newcastle akan berada dikisaran $70 - $75/ton hingga tahun depan. Kenaikan harga batu bara yang merangkak naik diatas $50/ton sudah mulai terjadi secara konsisten sejak kuartal ketiga 2016, dengan ekspektasi time lag satu tahun, dampak dari kenaikan harga batu bara terhadap konsumsi akan mulai terlihat pada kuartal tiga tahun ini.

Sehingga anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini merekomendasi beli untuk saham yang berhubungan dengan sektor konsumen seperti perusahaan ritel PT Mitra Adiperkasa yang berkode saham  MAPI dengan target harga Rp 8.300/ lembar saham dan PT Ramayana Lestari yang berkode saham RALS dengan target harga Rp1.430, produser rokok PT Gudang Garam atau kode saham GGRM dengan target harga Rp79.000/lembar, stasiun TV dan produser konten PT Surya Citra Media yang berkode saham SCMA dengan target harga Rp3.030, serta perusahaan konglomerat yang fokus utama nya di sektor automotif PT Astra International yang berkode saham ASII dengan target harga Rp10.000.

Login