News

Biaya Pencadangan Turun 2018 : Laba Bersih Perbankan Diperkirakan Tumbuh 14-15%

Jakarta-- Selama hampir tiga tahun terakhir, industri perbankan mengalami kontraksi karena kondisi ekonomi global yang berdampak pada perekonomian domestik. Kredit yang biasanya selalu tumbuh double digit, hingga akhir tahun lalu masih tumbuh dibawah 10%. meski memasuki kuartal empat terlihat sinyal perbaikan melalui kenaikan harga komoditas dunia yang stabil naik.

Data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan memperlihatkan, kredit hanya tumbuh 8,35% secara tahunan pada akhir tahun lalu, sejalan dengan rendahnya konsumsi masyarakat yang akhirnya tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tumbuh hanya 5,1% sepanjang 2017, dibawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 sebesar 5,2%.

Menurut Senior Analis PT Bahana Sekuritas Henry Wibowo, rendahnya penyaluran kredit pada tahun lalu karena korporasi dan UKM menahan diri untuk melakukan ekspansi usaha sehingga permintaan kredit cukup rendah. Namun tahun ini, permintaan kredit diperkirakan akan berangsur membaik dengan pertumbuhan sekitar 10% yang terutama berasal dari kredit infrastruktur oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perkiraan ini sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan kredit tumbuh sekitar 10% - 12%.

''Permintaan kredit investasi pada tahun ini akan beranjak naik karena tahun ini adalah saat yang pas untuk melakukan berbagai aksi korporasi besar sebelum memasuki Pilpres tahun depan,'' papar Henry. Kredit konsumer khususnya yang berasal dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih akan tumbuh, diikuti dengan kenaikan kredit modal kerja, tambahnya.

Membaiknya pertumbuhan kredit optimis akan diikuti dengan meningkatnya kualitas kredit yang akan tercermin pada penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sehingga trend penurunan biaya pencadangan yang disisihkan industri perbankan untuk menutupi kredit bermasalah masih akan terus berlanjut sepanjang 2018. Apalagi kenaikan harga komoditas yang diperkirakan bertahan pada tahun ini, akan memberi ruang bagi korporasi untuk menyelesaikan kredit bermasalahnya yang masih tersisa.

Turunnya biaya pencadangan akan berdampak positif bagi laba bersih perbankan, Sekuritas milik negara ini memperkirakan laba bersih perbankan sepanjang 2018, bakal tumbuh sekitar 14% - 15%, lebih tinggi dari perkiraan rata-rata perusahaan di pasar dengan proyeksi earning per share (EPS) yang tumbuh sekitar 12% - 13%.

Pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan pada tahun ini diperkirakan tumbuh lebih stabil dengan ekspektasi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Repo Rate pada tingkat 4.25% atau ada kecenderungan naik mengikuti langkah The Fed untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dengan melihat perkiraan industri perbankan yang akan pulih sepanjang tahun ini, Henry merekomendasikan beli atas saham Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp 8.500/lembar, Bank Negara Indonesia (BBNI) dengan target harga Rp 10.000/lembar, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target harga Rp 4.530/lembar dan juga Bank Tabungan Negara (BBTN) dengan target harga Rp 4.500/lembar.

Bank Mandiri, BNI dan BRI akan diuntungkan dari sejumlah proyek infrastruktur yang tengah digenjot oleh pemerintah melalui BUMN konstruksi. Bahana Sekuritas memperkirakan laba bersih Bank Mandiri akan tumbuh paling tinggi diantara empat bank terbesar lainnya dengan proyeksi sekitar 20% pada tahun ini, didorong oleh akselerasi pertumbuhan kredit dan normalisasi  biaya cadangan.

BNI memiliki eksposure cukup besar untuk membiayai proyek infrastruktur berisiko rendah, serta perbaikan kredit bermasalah dalam dua tahun terakhir menjadi kunci sukses bagi perseroan untuk melaju sepanjang 2018.

BRI akan terus ditopang kuat oleh dominasi di bisnis kredit mikro dan juga payroll.  BTN sebagai bank pemerintah yang fokus membiayai perumahan kelas bawah dan menengah, masih akan membukukan kenaikan permintaan KPR pada tahun ini, seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.

Login