News

Pelemahan Indeks akibat Faktor Global, Fundamental Ekonomi Domestik Kuat

Jakarta-- Pasar saham Indonesia telah mengalami pembalikan dana asing sejak akhir tahun lalu,  namun dalam beberapa hari terakhir ini dana asing yang keluar semakin besar sehingga pasar saham mengalami koreksi yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat berada dibawah level 6.400.

Pada 19 Februari yang lalu, indeks sempat bertengger di level 6.689, level tertinggi dalam sejarah pasar saham Indonesia, seiring dengan membaiknya fundamental perekonomian Indonesia. Namun dalam penutupan perdagangan Jumat (9/3)  indeks ditutup pada level 6.433.

Menurut Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas Andri Ngaserin, melemahnya IHSG tidak sendirian, tapi hal yang sama juga dialami negara Asia lainnya termasuk India, Singapura, Malaysia dan Filipina. Sebenarnya pelemahan yang terjadi di Indonesia tidak lebih dalam dibanding negara lain, bila selama tahun ini IHSG sempat menguat sekitar 5%, pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat indeks jatuh dan menghapus penguatan sepanjang tahun ini.

''Pelemahan indeks yang terjadi di hampir di seluruh Asia dalam beberapa hari terakhir ini, lebih disebabkan oleh faktor global khususnya Amerika yang semakin kuat menyuarakan market protectionism terhadap negaranya yang berujung pada pengunduran diri penasehat ekonomi Donald Trump '' papar Andri. Tekanan terhadap pasar Asia termasuk Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka waktu dekat.

Gary Cohn, penasehat ekonomi andalan Donald Trump mengundurkan diri karena tidak setuju dengan tarif impor baja dan aluminium yang akan diberlakukan Amerika. Hal ini semakin mengobarkan perang dagang yang akan ditempuh Amerika. Ditambah lagi, inflasi Amerika merangkak naik diluar ekspektasi banyak orang, sehingga hal ini akan mendorong kenaikan suku bunga acuan The Fed dengan kemungkinan naik lebih dari 3 kali.

Kenaikan the fed tentu akan membuat yield surat berharga US inilah yang mendorong terjadinya pembalikan dana dari pasar saham dan obligasi Indonesia, meski secara fundamental perekonomian Indonesia masih memperlihatkan perbaikan.

''Pertumbuhan ekonomi yang sudah memperlihatkan tanda-tanda perbaikan sejak kuartal empat tahun lalu, masih terus berlanjut hingga saat ini, stabilitas makro ekonomi Indonesia masih cukup kuat,'' papar Andri. ''Meski dalam beberapa hari terakhir ini terjadi capital outflow namun bank sentral masih bisa menjaga volatilitas rupiah cukup smooth sehingga tidak bergerak liar'.

Berlanjutnya pemulihan ekonomi terlihat dari penjualan mobil secara nasional pada Februari memperlihatkan kenaikan lebih dari 10% secara tahunan dengan penjualan retail mencapai 90,000. Penjualan semen juga tumbuh 10% secara tahunan pada Januari, permintaan terhadap alat berat masih memperlihatkan peningkatan. Hal ini menjadi indikator bahwa roda perekonomian masih terus memperlihatkan perbaikan yang positif.

Pemulihan ekonomi yang positif tersebut juga ditopang oleh harga komoditas global yang masih tinggi termasuk batubara dan bubur kertas sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja ekspor, investasi yang masih akan berlanjut seiring dengan reformasi institusi, regulasi dan perpajakan akan membantu iklim investasi. ''Ditopang oleh kestabilan rupiah dan fokus belanja pemerintah untuk aktivitas produktif seperti pembangunan infrastruktur akan membantu keberlanjutan perbaikan fundamental ekonomi Indonesia,'' ungkap Andri.

Data outflow dari pasar saham menunjukkan pembalikan dana asing sebesar Rp 12 triliun sejak awal tahun, sementara dari pasar surat hutang pemerintah, yield surat hutang negara tenor 10 tahun telah mengalami kenaikan dari 6.2% menjadi 6.8% mengikuti expektasi kenaikan yield surat utang Amerika. Berbagai faktor tersebut memberi tekanan terhadap mata uang sehingga rupiah terdepresiasi ke level Rp 13.786 pada penutupan perdagangan jumat (9/3), dari posisi awal tahun yang sempat bertengger di level Rp 13,550.

Login