News

Pesona Media Televisi yang Belum Lekang oleh Waktu

Jakarta -- Media televisi masih menjadi primadona untuk tempat beriklan, pasalnya lebih dari 90% masyarakat Indonesia menonton televisi setiap hari dari semua kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Media digital yang tumbuh demikian pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, belum mampu menggerogoti pangsa pertelevisian.
Menurut Bahana Sekuritas, seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia, belanja iklan pada tahun ini diperkirakan naik kekisaran 10% - 12%, dari belanja iklan tahun lalu yang tumbuh 8-10%. Belanja iklan ini masih akan didominasi oleh pertelevisian yang mengambil porsi sekitar 65% dari total belanja, sedangkan digital diperkirakan akan mengambil porsi sekitar 10%, iklan di media cetak seperti koran, majalah dan cetak lainnya diperkirakan mendapat porsi 15%, radio akan mengambil porsi sekitar 3%, sedangkan sisanya belanja iklan di media lainnya termasuk bilboard.
''Perkembangan media digital memang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, namun iklan di media televisi masih menjadi primadona,'' kata Henry Wibowo, Analis Senior Bahana Sekuritas. ''Naiknya porsi media digital, menggerogoti pangsa pasar media cetak dan radio,'' tambah Henry. Dalam riset yang dilakukan Bahana ada tiga media televisi besar yang layak untuk dicermati aksinya.
Surya Citra Media
Perusahaan yang berkode saham SCMA ini, menjadi salah satu saham yang direkomendasikan oleh Bahana untuk dikoleksi, setelah bulan lalu resmi menguasai mayoritas saham PT Sinemart Indonesia, demi meningkatkan kualitas sinetron. Maklum, rakyat Indonesia masih menjadi penonton setia tayangan sinetron, jadi dengan masuknya Sinemart ke SCMA akan mampu mengembalikan rating SCTV ke posisi no.1 atau 2, dari posisi bulan lalu yang sempat nongkrong di posisi keempat.
Sejak masuknya sinemart, pergerakan saham SCMA naik cukup tinggi ke sekarang di kisaran Rp 2.900/lembar dari yang sebelumnya sekitar Rp 2.200-an di bulan November 2016, karena ekspektasi untuk mendongkrak ratings SCTV dengan sinetron-sinetron andalannya. Bahana merekomendasi saham SCMA dengan BUY rating dengan harga target Rp3,000/lembar (di kisaran 25x Price-to-Earning Rasio), tetapi dengan tidak menutup kemungkinan untuk kenaikan lebih di kisaran Rp3,600/lembar (di kisaran 30x PE) jika ratings program baru SCTV dari Sinemart melampaui ekspektasi dan membawa SCTV ke peringkat 1.
Selain kehadiran Sinemart, Surya Citra, juga diuntungkan oleh tayangan akademi dangdut atau yang lebih dikenal dengan D'Academy; disiarkan oleh Indosiar, yang merupakan stasiun TV kedua yang dimiliki perusahaan.
''Biaya produksi untuk akademi dangdut ini terbilang murah, dengan minat penonton yang cukup besar, perusahaan bisa meraup keuntungan besar,'' ujar Henry.
Media Nusantara Citra
Saham grup media milik pengusaha dan politikus dari Perindo Hary Tanoesoedibjo ini juga salah satu saham yang layak untuk dibeli menurut Bahana Sekuritas, karena harganya masih murah tapi proyeksi pendapatan cukup tinggi, meski PE-nya hanya sebesar 12x. Rendahnya kisaran PE terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni marjin keuntungan yang lebih kecil dan karena sang pemilik yang berada di ranah politik. MNCN adalah grup pemimpin pasar Televisi di Indonesia dengan market share sekitar 37% di tahun 2016, memiliki 3 stasiun televisi berjaring nasional, yaitu RCTI, MNC TV (sebelumnya TPI), dan Global TV, dan satu stasiun TV berjaring lokal, yaitu iNews TV.
Selain memiliki televisi, MNCN juga memiliki media cetak yakni koran Sindo dan juga radio, yang keduanya sayangnya tidak memiki kinerja sebagus bisnis TV karena pangsa pasar yang tergerus oleh iklan di online internet media. ''Hubungan baik antara sang pemilik dengan presiden terpilih AS Donald Trump, tidak tertutup potensi adanya gebrakan baru yang bisa dibawa ke grup MNC Media dengan perusahaan media AS,'' kata Henry.
Bahana merekomendasikan beli untuk saham MNCN dengan target harga sekitar Rp 2.200/lembar (di kisaran 16x PE), dari posisi saat ini sekitar Rp 1.500/lembar (12x PE).
Visi Media Asia
Grup media milik Taipan Bakrie ini, masih berkutat dengan besarnya hutang yang belum terselesaikan sejak 2014 lalu sekitar USD 200 juta, saat TV one dan ANTV memegang hak siaran atas piala dunia. Keuntungan perusahaan yang berkode saham VIVA ini masih harus dipakai untuk membayar hutang dan bunga yang cukup besar (di kisaran 16-20% bunga), belum lagi dampak pelemahan rupiah.
Salah satu yang menjadi penopang VIVA keberadaan drama India yang disiarkan di ANTV, karena respon penonton cukup positif, tak heran kalau ANTV menayangkan drama India dari siang hingga malam hari, padahal sebelumnya ditayangkan dari sore hingga malam hari.
Beratnya cash flow perusahaan membuat Bahana merekomendasikan reduce untuk saham VIVA dengan target price Rp 230/lembar, dari yang saat ini sekitar Rp 300/lembar. ''Jika perusahaan mampu melakukan refinancing hutang di suku bunga yang baik , tidak mustahil harga saham bisa naik hingga dua kali lipat di kisaran Rp600/lembar,'' ungkap Henry

Login