News

Mewaspadai Kenaikan Inflasi Global , Bank Indonesia Menahan Suku Bunga Tak Berubah

Jakarta -- Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini memutuskan suku bunga acuan tetap tak berubah untuk yang kelima kali, setelah hari ini rapat the Federal Open Market Committee (FOMC) atau yang akrab disebut The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan US sebesar 0,25% menjadi 1%.
Menurut PT Bahana Sekuritas, keputusan bank sentral menahan suku bunga BI 7-day repo rate sebesar 4,75%, saat the fed menaikkan suku bunga acuan, sangat tepat karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan pemulihan serta ekspektasi kenaikan rating Indonesia dari Standard and Poors masih memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan Indonesia.
''Urgensi untuk pengetatan kebijakan moneter belum ada, mengingat tendensi rerating dari pasar keuangan pra kemungkinan naiknya rating Indonesia dari S&P akan membuat arus modal masuk berlanjut,'' kata Ekonom Fakhrul Fulvian. ''Hal ini akan membuat sentimen positif untuk rupiah, saham, dan obligasi masih akan berlanjut hingga pertengahan tahun ini,'' jelas Fakhrul.
Bank Indonesia mencermati naiknya tekanan inflasi di pasar global yang pada akhirnya akan mempercepat siklus pengetatan moneter di negara-negara maju. Hal ini tentunya akan berdampak pada penguatan dolar. Sementara itu, inflasi di dalam negeri masih terjaga sesuai dengan target sekitar 3% - 5%, meski ada tekanan kenaikan dari harga yang diatur pemerintah khususnya dari kenaikan tarif listrik.
Bahana memperkirakan dalam beberapa bulan kedepan, dengan meningkatnya inflasi global dan mulai dikuranginya stimulus di Eropa, menjelang akhir tahun ini, risiko pengetatan moneter tidak hanya akan datang dari US saja tetap juga dari Uni Eropa. ''Meski demikian ancaman kenaikan suku bunga dari negara-negara maju ini, tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sepanjang pemerintah bisa mempertahankan dan melanjutkan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini,'' jelas Fakhrul.
Dewan Gubernur meyakini pemulihan ekonomi akan berlanjut, yang tercermin pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini yang diperkirakan tumbuh relatif tetap kuat dari kuartal sebelumnya, terutama ditopang oleh investasi, konsumsi yang masih kuat serta kinerja ekspor yang positif seiring dengan kenaikan harga komoditas dunia. Sehingga BI meyakini pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017, akan berada pada kisaran 5% - 5,4%.
Pemulihan ekonomi juga tercermin pada peningkatan permintaan kredit pada Januari yang tumbuh sebesar 8,3% secara tahunan, lebih tinggi dari pencapaian akhir 2016, yang hanya tumbuh sebesar 7,9%. Sementara itu pembiayaan ekonomi dari pasar modal baik dengan penerbitan saham perdana atau initial public offering (IPO) dan right issue, maupun melalui penerbitan obligasi korporasi dan medium term note (MTN) masih memperlihatkan peningkatan.

Login