News

Tawarkan Bunga Obligasi 8,75% - 9,5%, Adhi Karya Siap Geber Proyek Infrastruktur

Jakarta -- Memanfaatkan momentum pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas  pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, PT Adhi Karya mencari pendanaan di pasar surat hutang dengan menerbitkan obligasi berkelanjutan II untuk tahap I pada 2017, untuk mendukung Pembiayaan pembangunan sejumlah proyek.

Perusahaan konstruksi ini berencana menawarkan total penerbitan obligasi sebesar Rp 5 triliun, yang akan dimulai dengan penawaran umum berkelanjutan sebesar Rp 3,5 triliun dengan tenor 5 tahun, menawarkan bunga sekitar 8,75% - 9,5%. Masa penawaran awal akan dimulai sejak 24 Mei - 8 Juni 2017, dengan penjamin pelaksana emisi PTBahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas.

''Penetapan kisaran bunga ini sudah mempertimbangkan kondisi perekonomian Indonesia terkini, juga kenaikan rating Indonesia ke investment grade oleh S&P serta fundamental perusahaan kami kedepannya,'' kata Direktur Utama Budi Harto. Untuk sisa obligasi Rp 1,5 triliun kemungkinan akan ditawarkan pada semester kedua 2018 atau semester pertama  2019, tergantung pada kondisi saat itu, dan kebutuhan pendanaan proyek.

Dana dari hasil penerbitan obligasi ini sebagian akan dipakai untuk refinancing obligasi perseroan yang akan jatah tempo pada Juli mendatang sebesar Rp 500 miliar, sekitar Rp 800 miliar akan digunakan untuk penyertaan baru ke anak perusahaan Adhi Persada Gedung serta membantu aksi korporasi yang akan dilakukan oleh Adhi Persada Beton yang berencana membangun pabrik baru atau mengakuisisi pabrik lain untuk meningkatkan kapasitas produksi. Perseroan juga berencana melakukan investasi pada sektor pengelolaan air bersih.

Hingga akhir April, perusahaan kontruksi milik negara ini sudah mendapat kontrak baru sebesar Rp 4,4 triliun, di luar kontrak dari proyek kereta api ringan atau Light Rail Transit (LRT). Sekitar 39,2%, berasal dari swasta, sekitar 36,4% berasal dari Badan usaha milik negara (BUMN) dan sisanya 24,4% berasal dari anggaran pemerintah baik Pusat maupun daerah. Mayoritas proyek yang dikerjakan untuk gedung mencapai 63,6%, untuk pembangunan jalan dan jembatan 23,3% sisanya untuk sektor lainnya.

PT Bahana Sekuritas memperkirakan pada tahun ini, perusahaan berkode saham ADHI ini bakal mengantongi total kontrak sebesar Rp 59,9 triliun atau naik hingga 92% dibandingkan total kontrak tahun lalu yang berhasil tercatat sebesar Rp 31,2 triliun. Bahana memperkirakan perseroan akan mendapat kontrak baru sebesar Rp 44,5 triliun dan sebesar Rp 15,4 triliun berasal dari carry-over. Sehingga laba bersih pada akhir 2017, diperkirakan akan naik sekitar 66% menjadi Rp 521 miliar dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 313 triliun.

Adhi akan semakin diuntungkan setelah skema pendanaan proyek LRT jabodetabek mendapat kejelasan. Total perkiraan investasi yang diperlukan untuk membangun LRT sebesar Rp 27 triliun, yang akan dibiayai dari pinjaman sebesar 63%, sedangkan sisanya dari ekuitas.  Sementara kontrak LRT yang dipegang perseroan mencapai Rp 23,4 triliun. Bahana memperkirakann pada tahun ini, dari proyek LRT, ADHI akan membukukan pendapatan sekitar Rp 6 triliun, sedangkan sisanya akan dibukukan pada tahun depan.

Login