News

Emiten Barang Konsumsi Menanti Pemulihan Daya Beli pada Semester Dua

Jakarta--Kenaikan level rating investment yang baru saja diberikan Moody's kepada Indonesia minggu lalu, membawa angin segar bagi pasar saham Indonesia, hampir sebagian besar saham emiten di bursa terkerek naik termasuk saham emiten barang konsumsi meski pemulihan daya beli masyarakat belum terlalu kuat.

Tingkat konsumsi masyarakat pada kuartal pertama tahun ini masih belum cukup menggembirakan, pasalnya awal tahun lalu konsumsi masyarakat terbilang kuat karena pemerintah belum menaikkan tarif listrik. Setelah memasuki paruh kedua tahun lalu, daya beli masyarakat mulai turun. Sehingga berdampak pada tingkat penjualan yang belum akan memperlihatkan kinerja positif pada kuartal satu tahun ini.

Namun Bahana Sekuritas memperkirakan pada kuartal dua tahun ini, daya beli masyarakat akan mendapat angin segar yang didorong oleh beberapa faktor yakni pencairan dana desa yang akan dilakukan oleh pemerintah melalui dua tahap yakni pada Maret-Juli sebesar 60%, sedangkan sisanya akan mulai dicairkan pada Agustus. Di saat yang bersamaan menjelang Idul Fitri, masyarakat akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR), diikuti dengan perhelatan Asian Games pada Agustus.

Pemulihan daya beli ini akan semakin kuat dengan adanya perhelatan Pilkada serentak pada Juni mendatang, yang biasanya baru akan mendorong penjualan retail setelah Pilkada selesai. Menurut Analis Bahana Sekuritas Michael Setjoadi, pertumbuhan penjualan industri barang konsumsi yang bergerak cepat atau fast moving consumer goods (FMCG) diperkirakan masih akan rendah pada kuartal pertama.

Sehingga beberapa perusahaan yang bergerak di sektor FMCG cukup berhati-hati dalam mengelola pengeluaran termasuk belanja iklan yang cukup besar mempengaruhi keuangan perusahaan. ''Melalui pemotongan belanja iklan, beberapa perusahaan bisa mencatatkan kinerja positif pada kuartal pertama tahun ini,'' ungkap Michael.

Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) meningkatkan Sovereign Credit Rating Indonesia dari Baa3 dengan outlook Positif menjadi Baa2 dengan outlook Stabil pada 13 April 2018, setelah akhir tahun lalu Fitch Ratings juga meningkatkan rating Indonesia dari BBB- dengan outlook Positif menjadi BBB dengan outlook Stabil pada 20 Desember 2017.

Di sisi lain, faktor global seperti kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah serta perang dagang yang dikumandangkan oleh Amerika bisa memicu kenaikan harga bahan baku yang pada akhirnya bakal memicu kenaikan harga barang.

Para emiten barang konsumsi seperti PT Mayora Indah telah menyadari penjualan masih cukup rendah pada kuartal pertama, makanya untuk tetap bisa mencatatkan kenaikan laba, perseroan lebih memilih untuk memotong belanja iklan di televisi yang biasanya lebih efektif meningkatkan penjualan untuk kelas menengah-bawah namun ongkosnya lebih mahal, tapi di sisi lain, gencar melakukan promosi di sosial media dengan biaya yang jauh lebih murah.

Emiten berkode saham MYOR ini juga diuntungkan dengan pasar ekspor yang potensial, sehingga saat kondisi pasar domestik belum sepenuhnya pulih, perseroan mencatat kinerja positif dari aktivitas ekspor. Hingga saat ini, penetrasi pangsa pasar di 80 negara masih cukup rendah, sehingga peluang untuk mendongkrak penjualan terbuka lebar. Dari sisi pasar domestik, produk baru Mayora biasanya disukai oleh masyarakat.

Melihat beberapa faktor positif ini, Bahana merekomendasikan beli atas saham MYOR dan menaikkan target harga menjadi Rp 3.300/lembar saham, dari yang sebelumnya seharga Rp 2.700/lembar. Perkiraan laba bersih pada akhir 2018, juga naik menjadi Rp 1,83 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 1,75 triliun

Rekomendasi beli juga diberikan untuk saham PT Indofood Sukses Makmur dengan target harga Rp 8.600/lembar saham, karena sebagian besar produk yang dijual adalah untuk kalangan menengah-bawah melalui anak usahanya Indofood CBP Sukses Makmur, sehingga dengan perkiraan daya beli masyarakat yang bakal semakin kuat memasuki paruh kedua, perseroan berkode saham NDF ini bakal diuntungkan. Apalagi perseroan berencana mengeluarkan beberapa produk baru

Rekomendasi tahan diberikan untuk saham PT Unilever Indonesia, dengan target harga Rp 49.000/lembar saham, pasalnya emiten berkode saham UNVR ini tidak berencana mengeluarkan produk baru dalam tahun ini, plus valuasi sahamnya juga sudah terlalu mahal.

Login